Rabu, 19 Februari 2014

Maryam si penjaga warung nasi



Untuk kesekian kalinya, warung itu tidak pernah terlihat sepi dari pengunjung.  Sebagian orang ada yang benar-benar berniat untuk membeli nasi, ada juga yang hanya membeli kopi hitam panas dan sekedar nongkrong. Kemudian mereka menghabiskan waktunya untuk main gaple atau catur di bale-bale yang tersedia di halaman depan warung. Si empunya warung tidak pernah mengusir mereka yang tidak menghasilkan keuntungan untuknya.  Justru dia berbangga hati ada yang mau meramaikan warungnya. Sehingga warung itu selalu menjadi pusat perhatian orang karena berada di pinggir jalan raya. Jelas, sekarang warung pinggir jalan itu terkenal karena didatangi banyak pelanggan. 

Namanya Maryam, seorang janda tanpa anak ini baru saja ditinggal suaminya. Karena kecelakaan truk bangunan, dia harus kehilangan si pemberi nafkah. Sekarang dia membantu mertuanya menjalankan usaha warung nasi pinggir jalan. Maryam selalu menjadi pusat perhatian bagi setiap laki-laki yang datang berkunjung ke warung nasi milik mertuanya. Penampilannya terlihat begitu sederhana, dia selalu memakai rok pendek dan kaos oblong, rambutnya yang panjang dan hitam pekat dikuncir olehnya  tetapi terkadang dibiarkannya terurai. Paras  wajahnya begitu menarik dan menggoda. Maryam memiliki bibir yang begitu enak untuk dipandang, juga mata yang indah. Seperti mata elang. Perkataannya lembut, membuat siapapun yang berbicara kepadanya seperti dituntun untuk bersikap baik dan lembut pula olehnya. Maryam adalah seorang yang pendiam, dia akan berbicara bila diajak berbicara. Selebihnya akan lebih memilih untuk diam dan mencatat arus keuangan yang masuk dan hutang-hutang dari setiap pelanggan yang datang.

Kehadiran Maryam di warung itu membuat usaha mertuanya semakin maju dan mendapatkan keuntungan yang banyak. Para pelanggan yang datang pada umumnya hanya ingin bertemu dengan Maryam tetapi kemudian mereka jajan ini-itu di warung mertuanya. Banyak lelaki menggodanya, terkadang memberikan bualan dan gombalan yang begitu kampungan. Saat itu Maryam hanya bisa tersenyum. Mungkin kegirangan,mungkin juga karena tak enak hati, maka dia membalas senyum kepada orang yang menggombal. Mertuanya tidak marah, tidak juga risih atau merasa kesal hati. Justru dia menginginkan Maryam segera menikah kembali. Sayang, maryam masih terlalu muda untuk tinggal seorang diri. Dia masih layak untuk menikmati manisnya berumah tangga dan mendapatkan sentuhan dari seorang lelaki. Banyak para pelanggan yang datang untuk mencoba mendekati Maryam, dia hanya membalasnya dengan senyum dan tidak memberikan respon yang lebih. Pernah suatu hari, Maryam dilamar oleh empat  lelaki yang baru dikenalnya.
“Saya pesan satu ya mbak. Pakai telur asin dan ayam goreng saja. Minumnya kopi” suara itu berasal dari seorang pengusaha keramik di Jakarta.
Maryam mengantarkan makanan ke tempat lelaki itu duduk. Lelaki itu diam membisu, menatap wajah Maryam yang begitu enak dipandang. Setelah menghabiskan nasinya, lelaki itu membayar makanannya. Dan meminta Maryam untuk berkenan menjadi kekasihnya. Dan bersedia menikah dengannya. Maryam menolak dengan alasan, dia masih belum bisa menggantikan suaminya dengan lelaki lain. Lelaki itu meinggalkan warung membawa kekecewaan.

Di selang waktu berikutnya,datang seorang lelaki dengan pakaian rapih. Dia juga seorang pengusaha di Jakarta. Sesampainya di warung dia memesan makanan dan Maryam mengantarkan makanan itu kehadapannya. Begitu sumringahnya lelaki itu melihat Maryam. Mata yang begitu indah, tutur kata yang lembut juga bibir yang begitu menggoda. Lelaki itu menginginkan Maryam untuk menjadi istrinya. Dia datang menghamiri mertua Maryam dan meminta merestui Maryam ntuk menjadi ibu dari kedua anaknya. Rupanya lelaki itu adalah seorang duda. Mertuanya diam, tetapi Maryam menolak dengan sopan. Lelaki itu pergi meninggalkan warung juga dengan membawa kekecewaan.

Warung masih terlihat ramai. Orang-orang yang sedari tadi nongkrong dan menyaksikan peristiwa itu terus membicarakan sikap Maryam yang menolak dua orang kaya yang ingin mempersuntingnya. Ada juga yang merasa senang karena Maryam tidak menerima kedua lelaki itu, karena mereka masih bisa menikmati keindahan Maryam tanpa takut dengan dimarahi suaminya.  Tak lama kemudian datang seorang lelaki dengan kulit sawo matang, tubuh yang tegap dan berisi,ada keringat yang bercucuran disana, menghiasi  wajahnya yang juga berwarna sama dengan kulit di tangannya. Masih menggunakan topi proyek. Dia adalah seorang mandor dari proyek pembangunan jalan raya. lelaki itu memesan nasi dan ayam bakar, dengan kopi tentunya. Maryam datang menhampiri dan menyajikan pesanannya. Si mandor begitu terpukau melihat kecantikan Maryam, juga pada mata dan bibir Maryam yang begitu indah. Mandor itu memegang tangan Maryam begitu erat. Maryam merasa risih, kemudian dia berusaha menolak sikap yang diberikan oleh mandor itu. Saat makan, si mandor terus memperhatikan Maryam. Pandangannya tidak pernah berpaling dari Maryam. Mertuanya merasa risih dan begitu cemas, karena menantunya seperti diintai dan dimata-matai. Kemudian mertuanya datang menghampiri mandor itu.

“Kau makan saja, tidak usah menatap menantuku seperti itu. Aku yang melihatnya begitu risih, setelah makan kau boleh pergi melanjutkan pekerjaanmu di jalan” wanita tua itu menatap mandor dengan penuh ketegasan. 

“Apa yang salah denganku? Menantumu begitu menarik perhatian. Dia cantik dan begitu menggoda. Ku dengar kabar, suaminya sudah meninggal. Tidakkah kau membiarkan dia menikah kembali? Jahat sekali kau ini” logatnya yang begitu kental membuat mertua Maryam semakin marah dan jengkel.

“Dia memang ditinggal suaminya mati. Tetapi sumpah mati juga, tak akan kubiarkan menantuku dipinang oleh seorang lelaki sepertimu. Mata keranjang. Setelah kau bayar. Silahkan pergi dari sini” ucap mertua Maryam dan kemudian dia pergi meninggalkan si mandor itu. 

Maryam hanya menunduk. Mungkin dia takut, bisa juga dia malu mnjadi bahan omongan dan perdebatan. Semua orang yang berada di warung diam dan tidak lagi membicarakan Maryam. Si mandor itu membayar jajanannya dan pergi membawa kekesalan. Dia mengumpat habis-habisan mertua Maryam.
Kejadian itu membuat suasana warung nampak tidak enak. Banyak pelanggan yang diam. Mertua Maryam juga menjadi diam membisu. Maryam memang selalu diam. Lama setelahnya sekitar pukul 3 sore, datang seorang lelaki berbadan besar, menggunakan topi berwarna biru gelap, celana jeans dan jaket jenas  besar. Lelaki itu memesan makanan kepada Maryam. Tentu saja, diapun melihat wajah Maryam. Ada ketertarikan disana. 

“Aku pesan nasi pakai telor. Kopi hitamnya satu saja mbak” pesan lelaki itu sopan.
Maryam mengantarkan makanan kepada pelanggannya. Seperti yang dia lakukan biasanya. Lelaki itu tidak menatapnya, dan membiarkan Maryam melenggang pergi setelah meletakan makanan di hadapannya.

“terimakasih” ucap lelaki itu.
Langkah Maryam terhenti. Suara lelaki itu begitu lembut dan menenangkan. Hati Maryam berdegup begitu kencang. Dia begitu gugup, sampai tidak membalas ucapan lelaki itu. 

Lelaki itu menghabiskan makanannya dan menyalakan rokok yang dia ambil dari balik jaket jeans miliknya.  “berapa semuanya mbak?” kata lelaki itu kepada Maryam. Lagi-lagi tidak menatap wajah Maryam. Dia berbicara dari bale-bale. Maryam masih berada di dalam warung.

“7 ribu mas” Maryam datang mendekat. Entahlah, mengapa dia menghampiri lelaki itu. Tidak seperti biasanya. Mertuanya pun merasa aneh melihat sikap Maryam kepada lelaki itu. 

“ini aku kasih 10 ribu. Tidak usah kembali. Untuk dirimu saja.” Kali ini lelaki itu menatap wajah Maryam. Mau tak mau. Karena Maryam sudah duduk tepat dihadapannya. Lelaki itu mampu melihat keindahan dari Maryam, begitu indah dan begitu dekat. 

“terimakasih mas. Ada kah hal lain yang ingin kau berikan selain kembalian tiga ribu rupiah?” perkataan Maryam membuat lelaki itu mendelik. Seperti ada harapan disana. Seperti ada ketertarikan dan sesuatu yang berbeda disana. Mertua Maryam terus memperhatikan dari dalam warung. 

“Rupanya kau Maryam yang selalu menjadi bahan perbincangan kaum lelaki. Sungguh indah rupamu. Matamu dan bibirmu yang begitu enak dipandang juga cara bicaramu yang begitu lembut, membuatku semakin tak berdaya. Andai bisa kumiliki dengan utuh dan sederhana dirimu, alangkah bahagianya diriku dan tentu saja akan kubahagiakan kau seperti aku yang sedang berbahagia di sore ini” lelaki itu terus menatap  Maryam. Tatapan yang begitu lugas dan tegas. Kalimat yang begitu menyejukan hati perempuan penjaga warung nasi itu. Maryam tersenyum dan tak lagi menunduk.

“Apa janjimu untuk sore yang begitu indah ini mas?” 

“tak ada janji yang bisa kuucap. Karena semua kata-kata akan menjadi indah bila berubah menjadi laku yang nyata. Kau hanya boleh menuntut kebahagiaan kepadaku. Aku bukan orang kaya, aku hanya si pemberi kata-kata pada setiap bait cerita. Aku hanya seorang penulis. Semoga kau mau merasakan bahagia bersamaku, juga menjadi pendengar cerita yang lara di setiap perjalananku.”  Lelaki itu masih menatap Maryam. 

Maryam tersenyum. Disentuhnya tangan lelaki itu. “Aku mau, mas”.

Ciledug, 20 Februari 2014

Selasa, 04 Februari 2014

Sepasang Kekasih Yang Bercinta di Luar Angkasa



Oleh: Dzatmiati Sari


Narator:
Sore ini bumi menangis, langit nampak abu-abu dan hujan datang menghias.  Embun menempel dibalik jendela. Aku masih setia menghitung rintikan dan merangkai wajahnya dengan embun. Wajah seorang lelaki yang begitu ku cinta. Wajah seorang lelaki yang mampu menjadi cahaya di saat aku merasakan gelap, mampu menjadi penghangat disaat dingin menyerbu dan mampu menjadi penyambung antara duka, derita juga bahagia. Dia lah lelaki yang membangunkanku dari kesepian yang panjang, dari takutku kepada malam. Dari kesedihan yang sulit untuk dihapuskan. Andreas. Sore ini aku hanya ditemani kopi hitam di saat aku  menantikan dirinya hadir dibalik embun dan bayang-bayang hujan. 

Derina:
Hari ini usiaku genap 25 tahun. Aku ingat ketika merayakan hari ulangtahun yang ke 23 tahun bersamanya. Saat dimana nenek masih menjadi penguasa pikiran dan pengendali hidupku. bagaimana aku menjalani kutukan menjadi seorang cucu yang tak pernah bisa membuat cerita dan merangkai kisahnya sendiri. Nenek selalu punya cara sendiri untuk bisa masuk ke dalam kehidupanku, dia menjalar pada setiap urat nadi dan pikiran orang-orang terdekatnya. Selama aku hidup dengannya aku tidak pernah tahu apa yang dia pikirkan tentangku, apa yang dia inginkan dan cita-citakan untuk masa depanku, yang kutahu nenek tidak menginginkan aku membelah diri, tidak menginginkan aku bersentuhan langsung dengan seorang lelaki. Selama itu pula, aku selalu menjadi wayang dalam permainannya. Nenek selalu mengira tak ada rahasia diantara kami berdua, tak ada jarak dan dusta yang tercipta. Tentu saja, sebetulnya aku mempunyai rahasia yang tidak diketahui olehnya. Bukankah embun tidak membutuhkan warna agar daun jatuh hati kepadanya? Juga pada rembulan yang tidak membutuhkan cahaya agar matahari selalu bersamanya. Sama halnya denganku, Aku tidak perlu menjadi seorang Cinderella untuk mendapatkan hati seorang laki-laki yang istimewa. Nek, bahagialah kau disana bersama para malaikat yang setia merawatmu, disini aku berbahagia tanpamu, tanpa kutukanmu, tanpa suara lirihmu yang setiap hari mengiang di telingaku, tanpa senyummu yang menjadi beban untukku. Malam ini akan kuceritakan rahasiaku kepadamu lewat hujan yang turun.
Derina memainkan piano. Mengalunkan sebuah nada.
Derina:
Siang itu aku bertemu dengannya di sebuah forum group diskusi yang diadakan oleh organisasi yang bergerak dibidang kemanusiaan. Memang pada siang itu aku sedang meliput topik terkait hak manusia di zaman sekarang. Andreas adalah salah satu pembicara dalam diskusi itu. Dia menggunakan kemeja berwarna cokelat terang, jeans hitam dan sepatu boat hitam, jam tangan diselempangkannya di tangan sebelah kiri. Pembicaraannya menarik dan aku menyukainya. Awal pertemuaku dengannya membuat sebuah cerita panjang penuh dengan babak-babak baru. Setelah berkenalan dan mewawancarainya untuk bahan yang akan aku ajukan ke editor, ada kesan menarik yang dia berikan kepadaku. Sekarang, pertemuanku dengannya tidak hanya sekedar wawancara antara reporter dan narasumber, tetapi kami sering menghabiskan waktu sore hari untuk sekedar minum kopi hitam di kedai kopi di daerah Jakarta Timur. Andreas juga sering mengajakku menonton konser musik dan menikmati live music di daerah Kemang. Hubungan ku dengannya semakin dalam, semakin aku merasakan ada sesuatu yang berbeda yang mengalir diantara kami berdua, seperti ada magnet yang memaksa kami untk mengakui bahwa kami jatuh cinta. Aku dan Andreas jarang ada waktu untuk bertemu, Andreas bekerja di beberapa tempat yang mengharuskan dia untuk selalu berpergian, namun sekali bertemu, Andreas selalu menyiapkan kejutan yang membuat aku semakin mencintainya. Mungkin, sebuah ciuman adalah hal kecil yang selalu kami lakukan. Aku bisa menghabiskan waktu satu hari penuh bersamanya, membiarkan pekerjaanku terlantar begitu saja untuk seharian.
Derina mengalunkan sebuah nada
Hujan datang menghiasi Ibu kota. Jalanan nampak basah, pepohonan menyimpan banyak air hujan di dalamnya. Aku masih berada di dalam kantor. Harus mengetik beberapa hal yang harus kulaporkan kepada pimpinan redaksi untuk topik bulan depan. Ponselku bergetar, mengisyaratkan ada pesan masuk. Kulihat, nama Andreas terlihat disana.
“Masih di depan layar komputer? Jam 5 Aku tunggu di kedai kopi seperti biasa ya”. Aku tersenyum. Betapa senang hatiku, rindu yang sudah bercabang akhirnya bisa disatukan oleh senyum yang selalu kunanti di setiap malam.
Aku membalasnya, “Hari ini aku ditemani oleh sepaket komputer dan kopi hitam tanpa ayam kremes-karena ternyata aku lupa makan siang. Sampai bertemu jam 5 Pastikan kamu jauh lebih tampan dari biasanya”.
Pukul 3. Pekerjaanku selesai. Harus selesai, karena aku tidak mau kehilangan sedikitpun moment di hari itu. Aku menuju Andreas menggunakan taksi. Kuyakin Andreas sudah datang tepat pada waktunya. Bulan ini dia full berada di Jakarta, bulan depan lagi dia harus berangkat ke Kalimantan. Perjalananku menuju kedai kopi membutuhkan waktu 1 setengah jam, belum ditambah macet karena angkot dan semakin banyaknya kendaraan roda empat yang sekarang menjadi tolak ukur-kesuksesan seseorang, sisa waktu setengah jam lagi dipakai untuk menikmati lampu merah. Setiba di kedai kopi, kulihat dia duduk seorang diri, ditemani vas bunga berwarna merah muda, menu makanan dan laptop dia gelar diatas meja. Tidak ada makanan ataupun minuman yang dia pesan, tidak ada secangkir kopi diatasnya. Dia setia menunggu.
“Kamu kalah. Aku datang tepat pukul 5. Persis dengan apa yang kau katakan” aku menjulurkan jam tangan ke hadapannya, sekaligus sebagai kalimat pertama untuk menyapanya.
                “Yang kalah kamu sayang, lihat di jamku sekarang sudah pukul 5.10. kamu telat 10 menit”
“Perbedaan waktu. Ah bukan topik yang menarik untuk dijadikan bahan diskusi dan perdebatan. Karena waktu mempuyai cerita dan keunikannya sendiri. Kenapa tidak pesan minum?”
“Masih setia menunggu sang dewi datang. Bagaimana kalau kita menyambut malam dengan menikmati indahnya lukisan. Mau?
                “Mau! Terimakasih, kamu selalu membawa kebahagiaan untuk aku santap di setiap waktu”.
Kami tidak lama berada di kedai kopi, Andreas membayar janjinya dengan mengajakku ke pergelaran lukisan di daerah Pasar Baru.  Ada banyak lukisan yang bisa aku lihat dengan puas. Malam itu indah, rembulan seakan tersenyum kepada kami. Tetapi kemudian, aku mendengar suara lirih nenek seakan membisikkan telinga, “Derina sayang, kamu harus segera pulang. Ini sudah malam” Aku berusaha menolak hadirnya nenek di hari ini, meskipun hanya sekedar suara. Tapi aku tidak menantikannya.
“Malam ini kita menginap ya?” Tanya Andreas kepadaku. Saat itu kulihat dia sudah bosan berada di tempat ini. Aku masih setia berada disini. Aku mengangguk.
                “Aku lapar. Kita makan yuk” Tepat. Dia bosan berada disini.
                “Oke. Setelah itu, aku tahu kamu pasti lelah dan meminta untuk istirahat.”
                “Kamu mengerti sekali. Pantas aku jatuh hati kepadamu.”
                “Jangan merayu. Aku juga sudah mulai lapar”
Kami meninggalkan pergelaran lukisan, mencari tempat makan yang menurut kami asik dan menarik. Akhirnya kami memilih makan ayam remuk pinggir jalan. Andreas yang baik hati, dia selalu hadir disetiap waktu yang tepat. Dia tidak pernah menggangguku tapi selalu menggoda dan membiarkan aku terus memikirkannya. Malam itu kami menginap berdua di suatu tempat. Tempat dimana tak ada satupun orang yang berminat untuk bergabung bersama. Dia memperlakukanku layaknya seorang putri di Angkasa. Membawaku melayang terbang tinggi dengan kata-kata lembut yang dia keluarkan untukku.  Aku tak tahu mengapa dia menyentuhku, dan aku juga tidak mengerti mengapa aku ingin disentuh olehnya. Aku tidak mengerti mengapa dia menciumku, tetapi aku menyukainya. Aku tidak memahami mengapa dia memilih aku untuk merasakan cintanya dan membiarkan aku menyetubuhinya. Kami bercinta bersama rembulan di luar angkasa. Yah.. kami bercinta, tanpa alasan, tanpa harus aku banyak bertanya apa, apa dan mengapa?. Karena semua mengalir, semua terasa indah. Malam itu, Aku disentak oleh kenyataan bahwa aku bercinta dengan penuh kesadaran.
                Derina sayang mengapa kau lakukan itu kepadaku?” kudengar suara nenek lirih bergeming. Kurasa dia merasakan sesuatu di dalam dirinya. Seakan ada sesuatu yang rapuh dan tergores dari hatinya karena peristiwa semalam.Tapi bukankah itu seharusnya menjadi urusanku, bukan lagi urusannya. Ini hidupku! Bukan hidupnya. Aku juga tidak menjual hidupku kepadanya, mengapa seakan dia memiliki hidupku dengan utuh?.
Aku membuang semua perasaanku kepadanya, menghindar dari suara lirih yang sangat mengusikku. Kulihat Andreas masih berbaring di sampingku. Wajahnya tenang, ada rasa nyaman dan ketulusan terpancar dari dalam dirinya. “Derina…mengapa kamu melakukan ini kepadaku? Mengapa?” suara itu kembali hadir mengusik, lagi dan lagi semakin dalam menggangguku.
“Hentikan nek!! Berhentilah berbicara dan bergeming dalam pikiran dan mencampuri kehidupanku. Aku menyayangimu, tetapi sesungguhnya aku juga membencimu sangat!” Aku berteriak menyebabkan Andreas terbangun dari tidurnya. Ditatapnya aku dengan heran, “kamu baik-baik saja?” aku terdiam, menangis dan terus menangis dalam pelukan Andreas. Dia memahamiku dengan tidak lagi bertanya dan mengintrogasiku. “Sebaiknya kita pulang siang ini. Kamu harus istirahat.” Oh Andreasku, mengapa kamu begitu memahamiku dengan sempurna?
Aku dan Andreas memutuskan untuk kembali pada kenyataan, kembali kepada bumi dan kembali pada keseharian. Ku saksikan nenek berada di teras rumah menyambutku dengan tatapan nanar, dia tidak menyukai Andreas, baginya Andreas adalah racun untukku. Seorang putri tidak pantas berdekatan dengan racun. Nenek mengusirnya, dia membuang sirih yang digenggamnya tepat di hadapan Andreas. Dan memaksaku untuk masuk ke dalam. Kemudian dia memasungku dan menghancurkan telepon genggamku. Aku tidak berkata sekata katapun kepadanya, tetapi mengapa dia memperlakukanku layaknya aku seperti buronan dan teroris? Satu hal yang kuketahui saat itu, Nenek sangat membenciku, tidak ada kasih di dlmnya.
                “Aku pernah bersumpah kepada diriku, bahwa aku tidak akan membiarkan dirimu dekat dengan lelaki. Kamu tidak pantas terjamah oleh lelaki, Derina. Kau tidak akan pernah menjadi milik Andreas Jangan tanya kenapa, karena tidak ada pertanyaan atas argumenku” setelah itu nenek mengunci pintu kamarku. Aku tidak boleh pergi kemanapun kecuali mandi. Makan pun diantar ke kamar.
Namun, lama setelah peristiwa itu terjadi, nenek jatuh sakit. Tidak ada yang merawat dirinya. Karena, aku yang biasa merawatnya di penjara di dalam kamar. Dia yang menyebabkan penyakit itu datang kembali, dia yang mengundang kematiannya untuk cepat datang. Sampai pada akhirnya dia  meninggal. Meninggalkan aku sendirian di dalam kamar, membirkan dia menjemput ajalnya seorang diri, membiarkan dia menyaksikan sakaratulmaut tanpa seorang teman. Maafkan aku, nek! Karena aku tidak berencana dan ikut campur dalam urusan kematianmu. Aku menyayangimu, tapi aku tidak buta seperti dirimu, sampai menutup jalanku untuk mencari bahagia dan kebebasanku sendiri. 

Derina :
Sampai sekarang kau tidak pernah tahu bahwa aku sudah pernah dijamah dan menjamah seorang lelaki. Kau tidak tahu bagaimana rasanya nikmat yang aku rasakan dimalam itu, kau tidak tahu bagaimana rasanya dicintai seseorang dengan luar biasa. Kau benar, aku tidak akan pernah memiliki Andreas, karena dia telah pergi jauh sekarang. Dia meninggal dalam perjalanannya menuju (    ) pesawat yang ditumpanginya jatuh ke laut. Kau benar, sekarang aku yang menanggung semuanya sendiri, bukankah ini soal pilihan dan bertahan dalam pilihan itu nek? Aku memilih bercinta dengan Andreas pada malam itu. Dan aku yang bertahan dalam pilihanku. Sekarang, aku merdeka. Merdeka dari segala pengganggu. Aku merdeka dari dirimu yang selalu menyiksa pikiranku dengan suara lirihmu, dan aku merdeka karena hanya Aku yang mampu menyetubuhinya, tidak ada satupun. Begitupun dengannya. Maafkan aku nek, aku memilih untuk membelah diri tanpa pernikahan dan itu tanpa kau ketahui


Derina menutup kisahnya dengan memainkan piano untuk sang kekasih yang begitu dicintainya. Ada doa di dalamnya. Ada kenyataan yang menyadarkan dirinya, bahwa dia memang seorang lajang yang sudah membelah diri. Dia bertahan.. sekarang, pertanyaannya terjawab sudah,mengapa Andreas yang harus disetubuhinya, mengapa Andreas yang menciumnya. Karena cinta membawa Derina pada puncaknya. Karena cinta menunjukkan betapa indah dan menyakitkannya dia. Derina harus siap bertahan meskipun harus sendiri. Tapi Derina tidak sendiri, karena dia selalu bercumbu bersama Andreas setiap malam di dalam mimpi, bersama bayangan yang begitu nyata. Bercinta di luar angkasa. 

(Dituli di dalam patas ac, 2013)

Selasa, 04 Juni 2013

LANGKAH DALAM GELAP
Karya: Dzatmiati Sari

Suasana sore yang begitu menyejukan mata, karena tak tampak mendung di langit, juga tak tampak lara dihati  seakan menggambarkan suasana hati dua anak yang sedang asyik menikmati kue pukis di pinggir tangga sebuah gedung.
Nampaknya perbincangan mereka begitu ringan dan hangat. Terlihat jelas dari kedua titik ujung bibir mereka yang melebar. Tatapan mata yang ceria dan gerakan tangan yang santai mengambil kue pukis yang ada di dalam kantong plastik berwarna merah dan putih memanjang kebawah.  Sebentar hening, untuk menarik nafas panjang dan menyimpannya dalam paru-paru. Tetapi keheningan itu cukup lama, tak ada kata, kalimat ataupun suara yang terlontar dari mulut mereka. Sepertinya ada sesuatu. Oh, ternyata mereka sibuk dengan gadget yang ada di tangan mereka masing-masing. Yang satu memegang  Ipad dan yang satu asik memainkan Smartphone nya. Fokus dan perhatian mereka, dengan mudah dicuri oleh benda yang tak bisa bicara itu tetapi bisa memberikan banyak wacana di dalamnya. Memang, informasi sekarang ini dapat dengan mudah kita dapatkan di dalam teknologi (gadget) tetapi, terkadang alat itu bisa menjadi monster yang menakutkan untuk kita semua. Terlihat dengan jelas dan sangat kontras, ketika kedua anak itu saling bertatap mata, saling menebar tawa, berbagi cerita yang membuat merka ceria dan saling berbagi bahagia seketika berubah menjadi suasana yang super hening, karena pikiran mereka dicuri oleh monster yang bernama gadget. Saat gadget itu memberikan tanda akan adanya pemberitahuan dari jejaring sosial tertentu, perhatian kita akan dengan mudah beralih kepadanya. Padahal, kita sedang asyiknya merajut keceriaan dengan teman disebelah kita. Memang betul, seakan gadget itu menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh. Aku sepakat akan pernyataan itu jika dipakai oleh mereka yang memang mengagungkan gadget.
Sedang asyiknya mereka bercumbu dengan gadget mereka, datang seorang anak laki-laki kurus dengan ukuran kaki yang tidak terlalu panjang. Memakai celana jeans berwarna hitam agak kebesaran, dan kaos berwarna kuning. Dalam perjalananya pun, anak laki-laki itu sibuk memainkan handphonenya. Matanya hanya tertuju pada layar kecil yang menampakkan huruf-huruf yang terangkai menjadi sebuah pesan. Sepertinya pesan itu cukup manis untuk dibaca olehnya. Karena terkadang dia tersenyum saat mebacanya. Yap, benar-benar fokus rupanya.
Saat anak laki-laki itu berjalan melewati dua anak perempuan itu, dia cepat sadar ketika melihat keadaan hening yang menggambarkan betapa atutisnya kedua anak itu. Byaaar! Dibuyarkannya fokus dari kedua anak perempuan itu oleh anak laki-laki sebayanya.
“Berdekatan tapi saling diam, cupu!” ucap anak laki-laki itu.
Salah satu anak perempuan itu menjawab ucapannya, “kamu aja sibuk berjalan dengan handphonemu. Jalan kok nunduk kebawah bukan menatap kedepan.”
Seakan, anak laki-laki itu tidak menghiraukan ucapan dari salah satu anak perempuan itu. Dia pun membuka topik pembicaraan lain.
“loh, kok kalian masih ada disini? Katanya mau ke rumahnya mamak? Ini udah sore. Nanti kalian kemalaman sampai disana.”
“Ohiya, kita sampai lupa sama waktu, asyik ngobrol tadi”
“Asyik ngobrol apa asyik menjadi anak yang autis?”
“Yee, kamu sok menilai orang, kamu sendiri seperti itu. Kita memang tadi asyik ngobrol, tiba-tiba ada hal penting yang membuat kamu beralih ke gadget”
“Itukan alasan doang. Seberapa penting sih? Ah sudah sana kalian cepat pergi, nanti kemalaman”.
“Iya iya. Ini kita segera pergi”.
Kedua anak itu pun meninggalkan anak laki-laki itu seorang diri. Tak jauh mereka pergi, kembalilah anak laki-laki itu sibuk menatap layar handphonenya. Dia kembali pada monster menakutkan itu.
Sore itu tidak hujan. Tetapi awan cukup teduh, seakan memberikan isyrta nanti akan turun hujan, entah 3,4,5 atau berapa jam lagi akan turun hujan.
Kita tetap berjalan menuju rumah mamak. Sebetulnya salah satu anak itu, sudah sering berkunjung ke rumah mamak. Tetapi melewati jalan yang berbeda dat\ri jalan yang ditempuhnya saat ini. Ini adalah jalan baru yang mereka telusuri.
Awalnya, mereka ingin memakai jalan yang lama, tetapi karena ada keperluan lain maka mereka menggunakan jalan baru dengan keyakinan “kita akan sampai di rumah mamak meskipun tidak tahu pasti jalan menuju rumahnya”.
Saat diperjalanan, mereka banyak berbicara, saling bercerita dan berbagi tawa. Saat itu, benar-benar mengabaikan gadget.
Untuk sampai ke rumah mmak ternyata tidaklah mudah jika melewati jalur baru ini, ada beberapa hal yang membuat mereka bingung dan saling meyakinkan keyakinan masing-masing dan saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
Setalah lama berjalan, sampailah mereka di sebiah persimpangan yang membingungkan. Di persimpangan itu, semua orang yang akan melewatinya akan merasa kebingungan, kecuali mereka yang mempunyai keyakian yang kuat opada diri mereka bahwa mereka tidak akan tersesat. Selain itu, di persampingan itu akan menemukan seoarng pria mistis yang selalu memakai pakaian coklat dan membawa pluit. Dia akan membunyikan pluitnya kalau kita berjalan tidak sesuai aturannya. Semua orang malas sekali berurusan dengannya, karena akan menghabiskan banyak uang saku jika kita melanggar aturan yang ada dipersimpangan itu. Tetapi, karen a kedua anak itu mempunyai keyakinan bahwamereka akan sampai ke rumah mamak, mereka lolos melewati persimpangan itu.
Berjalan terus mereka, kembali berbincang dan saling tawa.
Perjalanan belum juga aman, ternyata mereka akan melewati tanjakan sirotulmustakim dan turunan alhamdulillah yang dihuni oleh banyak orang disekitarnya. Terkadang beberapa dari orang-orang itu berjualan di pinggir atau setelah tanjakan itu mencapai ujungnya.
Untuk sampai pada ujung tanjakan sirotulmustakim dan turunan alhamdulillah, kedua anak itu harus saling berpegangan, dan saling menahan dan menguatkan satu dengan yang lainnya. Karena angin pada saat melewati tanjakan dan turunan itu sangat hebat. Angin besar yang dapat menggoyangkan tubuh kita dan dapat menggoyangkan topi kedua anak itu dan orang-orang lain yang juga memakai topi. Selain angin besar yang ada, kebingunganpun akan muncul saat kita sudah pada titik turunan alhamdulillah. Semua orang akan merasa bingung, karena banyaknya orang yang berlalu lalang tanpa memikirkan keadaan disekitarnya. Sering orang terkecoh setelah melewati tanjakan dan turunan itu. Dan kemudian berputar balik ke arah yang sebelumnya. Begitu seterusnya, hingga sampai oranag itu merasa lelah dan benar-benar pada titik kebingungan yang luar biasa, dia pun tersesat oleh kebingungannya sendiri. Kedua anak itu mengalami itu setelah berada pada titik turunan alhamdulillah. Mereka mengalami kebingungan dan berbalik arah ke arah sebelumnya, namun saat untuk melewati tanjakan dan turunan itu lagi, mereka meyakinkan keyakinan mereka bahwa mereka akan sampai di rumah mamak. Dan yakin akan jalan yang mereka pilih. Akhirnya mereka pun berhasil lolos dari tanjakana dan turunan itu.
Terus berjalan. Mereka tak tahu sedang berada dimana mereka saat itu. Berjalan terus mengikuti langkah-langkah yang mereka yakini bahwa itu adalah jalan yang benar. Awan benar-benar tampak teduh, memberikan isyarat bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Berhati-hati dalam perjalanan. Dan tetap saling meyakinkan dan memberi kekuatan satu dengan yang lainnya. Sampailah mereka pada sebuah jalan berbukit-bukit dengan hembusan angin yang kencang didalamnya. Suasana di perjalanan itu terasa dingin, kalau tidak pakai jaket hangat, mereka akan merasa kedingin yang begitu. Masuk kedalam gerbang menuju jalanan berbukit itu cukup ramai. Sepertinya banyak orang-orang yang akan masuk ke dalamnya, mereka pun melangkah. Sampai pada pertengahan jalan sudah mulai sepi, orang-orang yang tadinya ramai di depan gerbang sekarang sudah mulai hilang terbawa angin karena tidak kuat melawan dingin dan kencangnya angin yang menghantam tubuh-tubuh mungil mereka. Kedua anak itu terus melaju, memandang kedepan, dan tampak jalanan berbukit panjang yang mereka sendiri tak tahu dimana ujungnya.  Angin semakin kencang dan orang semakin sedikit yang bertahan. Dalam perjalanan kedua anak itu mengalami kebingungan yang luar biasa, mereka tak tau harus kemana. Langkah mereka terhenti karena tak tau lagi harus melangkah atau tidak, atau justru kembali pulang. Datang seoarang perempuan dengan kaca mata besar yang menutupi mata aslinya.
“Maaf ka mau tanya, jalan lurus itu menuju kemana yah? Dan sekarang ada di daerah mana yah?”
“Oh kalau kamu jalan lurus nanti akan bertemu dengan stasiun kereta. Dan kamu sekarang sedang berada di bukit ketabahan”
“Stasiun itu ada didekat sungai yah ka?”
“Iya benar. Nanti kamu akan menemukan sungai saat bertemu dengan stasiun itu”
“Iya benar benar. Itu tempat yang akan kami tuju. Terimakasih ka.”
“baik. Jalan terus saja sampai nanti bertemu persimpangan goyang, kamu belok ke kanan dan ikuti jalan itu. Ingat. Kalian harus yakin akan langkah-langkah kalian.”
“persimpangan goyang? Apa itu ka? Baik, terimakasih banyak.”
“persimpangan goyang adalah, keyakinan kalian akan digoyangkan disana. Ingatan kalian akan digoyangkan dan tubuh kalian akan digoyangkan karena di persimpangan goyang itu jalannnya miring. Kalian harus kuat kuat berpegang kalau tidak ingin jatuh.”
“Oh seperti itu, baik ka. Kami melanjutkan perjalan kami”.
Angin semakin kencang menggoyangkan tubuh kecil kedua anak itu, jalanan berbukit terus mereka ikuti sampai bertemu pada persimpangan goyang. Sampailah mereka.
Kuat-kuat mereka berpegang satu dengan yang lainnya, fokus pada keyakinan mereka, dan yakin bahwa mereka akan sampai ke rumah mamak. Tidak cukup lama untuk berada di persimpangan goyang itu. Tetapi hantaman dari ketidakyakinan cukup besar. Jika tidak kuat keyakinannya, mereka akan jatuh dan sulit untuk bangun karena jalannya miring.
Tapi dengan keyakinan yang kuat dan saling berpegangan kedua anak perempuan itu lolos di persimpangan jalan. Sekarang mereka tinggal berjalan terus sampai menemukan sungai dekat dengan stasiun .
Rumah mamak tidak terlalu jauh dari stasiun dan sunagi yang mengalir. Berjalan terus, sering kali mengusap muka karena debu-debu yang menempel di muka cukup banyak. Sampai mereka melewati staisun, tampak sumringah wajah mereka. Karena meraka akan sampai di rumah mamak. Keceriaan dan rasa letih sudah hilang sirna saat melihat portal rumah mamak. Dan mereka pun sampai di tempat tujuan.
Tersenyum dan saling memandang keduanya. Seakan ada dorongan dari alam untuk mereka saling berpelukan. Bahwa semangat mereka dan keyakinan mereka membawa mereka sampai pada tujuan meskipun mereka berjalan pada kegelapan.
Rupanya mamak sudah menunggu di dalam rumah. Spontan, kedua anak itu menciuminya. Rasa bahagia tampak diantara mereka.


Rabu, 01 Mei 2013

Sehangat Senja

Kepada:
Dewa Semesta

Aku ingin terbentang luas di samudera
Karena indahnya senja yang selalu menyejukkan mata
Aku ingin terbang dan melayang di angkasa
Karena indahnya senja yang selalu dinanti oleh jiwa

Ingin selalu mengenalmu lebih jauh
Tapi aku harus paham bagaimana diriku
Ingin selalu mengenalmu tanpa angkuh
Tapi aku harus meredam bara di dalam batinku

Di istanaku, tidak sebaik yang terlihat
Di istanaku, kenyamanan sudah terkikis habis
Di dalam pigura aku berada dan takut
Dalam risau aku diam, dendam yang kini kuhapus

Ingin ku runtuhkan kebencian
Ingin ku buang keputus asaan
Ingin ku bongkar ketidakpedulian
Ingin ku hancurkan kebodohan

Salam dariku:
Putri Antariksa

(Catatan dilembaran cover depan fotocopyan kepunyaanku)

Rasa

Sendiri bukan berarti sepi
Bisa saja hanya benar-benar mau menyendiri
Atau untuk sekedar meredamkan hati
Dari amarah di dalam diri

Sendiri bukan berarti sunyi
Mungkin pusing karena masalah saat ini
Yang susah untuk diatasi sendiri
Maka dari itu lebih baik untuk menyepi

Sendiri bukan berarti tak perduli
Dari keadaan sekitar yang menghampiri
Mungkin hati kurang meyakini
Terhadap jalan keluar dari segala persoalan yang dihadapi

Sebetulnya aku tidak berlari
Ataupun mengasingkan diri
Tetapi bukan keramaian yang dibutuhkan saat ini
Melainkan kedamaian hati yang sedang dicari

Waktu terus berputar tanpa henti
Kecuali batrai jam tangan yang sudah mati
Tapi waktu semesta takkan pernah berhenti
Kecuali Yang Maha Kuasa yang mengakhiri

Sama seperti kesendirianku saat ini
Semua dimulai karena dikehendaki
Dan akan diakhiri jika saatnya nanti
Aku hanya bisa menjalani atas apa yang sedang terjadi

Tuhanku Maha Memahami
Tuhanku juga Maha Mengerti
Dan Dialah Yang paling Mengetahui
Sampai pada perasaan dan kesendirianku yang telah Ia beri

Sendiri bukan berarti sepi, sunyi apalagi tidak perduli
Tetapi bagiku sendiri berarti mengenal hati sendiri
Menyentuh dan lebih memahami dri sendiri
Terima kasih kepada Tuhan yang selalu aku cintai

Sabtu, 13 April 2013

Untuk kalian

Ini bukan soal siapa aku dan bagaimana aku. Mungkin ini soal waktu yang dapat mengubah hal-hal yang sebelumnya tak pernah terlintas dipikiran, tak pernah terbaca oleh bayangan-bayangan semu. 
Tak beraura yang menghebohkan, yang dapat membuat pangling mata dari setiap mereka yang menginjakkan kakinya di tempat itu. Aku tak paham bagaimana mekanisme dan cara kerja kerja waktu merubah itu semua. Dan bagaimana cara waktu mengatur semua pertemuanku dan kedekatanku dengan mereka, bagaimana aku dengan lincah bisa bergurau dengan mereka, berbagi cerita dan menelan semua tawa yang dibagi dengan cuma-cuma oleh mereka. Aku tak paham. 

Sejujurnya aku pun tak mengenal dengan jelas siapa mereka, dan bagaimana kepribadian mereka. Mereka memandangku seperti samar-samar. Begitupun aku sebaliknya. Tapi nyatanya sekarang mereka begitu jelas rupanya, begitu dekat untuk aku dekap, dan begitu nyaman untuk aku bersandar atau berbagi suka maupun duka. Meskipun tak selalu ada disetiap aku inginkan mereka hadir, tetepi mereka selalu berusaha disaat aku membutuhkan mereka. Disaat hati ini memudar, disaat resah ini menyelimuti jiwa, dan disaat ke putus asa-an hampir mendekatiku. 
Aku beruntung, karena waktu memutar semuanya, aku beruntung karena  diperkenankan mengenal dan bisa saling berbagi dengan mereka. Sadar, aku bergantung kepada kalian, entah itu akan kehadiran kalian atau sekedar perhatian dan nasihat yang selalu kalian berikan kepadaku. Sebetulnya kalian tak seindah apa yang aku tuliskan, banyak keisengan, bercandaan yang terkadang membuat jengkel, dan hal-hal yang membuat aku ingin sekali menyiram kalian dengan air keras, tetapi seakan semua lenyap dengan kasih sayang yang kalian beri tanpa pamrih kepadaku. Aku mencintai kalian. Tak perduli apa kata orang tentang diri kalian. Kalian selalu bisa menjadi yang baik untuk aku. Kemarin dan saat ini. 


Sukses untuk Skripsinya kakak-kakak ku yang paling kukasihi. Aku menyayangi kalian.



(Kupersembahkan tulisanku untuk Dimas Nurzaman, Kismayeni, Syauqi Nawawi)

Minggu, 24 Februari 2013

Bukan titik yang membuat tinta, tapi tinta yang membuat titik. Bukan cantik yang membuat cinta, tapi cinta yang membuat cantik.- AM