Selasa, 04 Februari 2014

Sepasang Kekasih Yang Bercinta di Luar Angkasa



Oleh: Dzatmiati Sari


Narator:
Sore ini bumi menangis, langit nampak abu-abu dan hujan datang menghias.  Embun menempel dibalik jendela. Aku masih setia menghitung rintikan dan merangkai wajahnya dengan embun. Wajah seorang lelaki yang begitu ku cinta. Wajah seorang lelaki yang mampu menjadi cahaya di saat aku merasakan gelap, mampu menjadi penghangat disaat dingin menyerbu dan mampu menjadi penyambung antara duka, derita juga bahagia. Dia lah lelaki yang membangunkanku dari kesepian yang panjang, dari takutku kepada malam. Dari kesedihan yang sulit untuk dihapuskan. Andreas. Sore ini aku hanya ditemani kopi hitam di saat aku  menantikan dirinya hadir dibalik embun dan bayang-bayang hujan. 

Derina:
Hari ini usiaku genap 25 tahun. Aku ingat ketika merayakan hari ulangtahun yang ke 23 tahun bersamanya. Saat dimana nenek masih menjadi penguasa pikiran dan pengendali hidupku. bagaimana aku menjalani kutukan menjadi seorang cucu yang tak pernah bisa membuat cerita dan merangkai kisahnya sendiri. Nenek selalu punya cara sendiri untuk bisa masuk ke dalam kehidupanku, dia menjalar pada setiap urat nadi dan pikiran orang-orang terdekatnya. Selama aku hidup dengannya aku tidak pernah tahu apa yang dia pikirkan tentangku, apa yang dia inginkan dan cita-citakan untuk masa depanku, yang kutahu nenek tidak menginginkan aku membelah diri, tidak menginginkan aku bersentuhan langsung dengan seorang lelaki. Selama itu pula, aku selalu menjadi wayang dalam permainannya. Nenek selalu mengira tak ada rahasia diantara kami berdua, tak ada jarak dan dusta yang tercipta. Tentu saja, sebetulnya aku mempunyai rahasia yang tidak diketahui olehnya. Bukankah embun tidak membutuhkan warna agar daun jatuh hati kepadanya? Juga pada rembulan yang tidak membutuhkan cahaya agar matahari selalu bersamanya. Sama halnya denganku, Aku tidak perlu menjadi seorang Cinderella untuk mendapatkan hati seorang laki-laki yang istimewa. Nek, bahagialah kau disana bersama para malaikat yang setia merawatmu, disini aku berbahagia tanpamu, tanpa kutukanmu, tanpa suara lirihmu yang setiap hari mengiang di telingaku, tanpa senyummu yang menjadi beban untukku. Malam ini akan kuceritakan rahasiaku kepadamu lewat hujan yang turun.
Derina memainkan piano. Mengalunkan sebuah nada.
Derina:
Siang itu aku bertemu dengannya di sebuah forum group diskusi yang diadakan oleh organisasi yang bergerak dibidang kemanusiaan. Memang pada siang itu aku sedang meliput topik terkait hak manusia di zaman sekarang. Andreas adalah salah satu pembicara dalam diskusi itu. Dia menggunakan kemeja berwarna cokelat terang, jeans hitam dan sepatu boat hitam, jam tangan diselempangkannya di tangan sebelah kiri. Pembicaraannya menarik dan aku menyukainya. Awal pertemuaku dengannya membuat sebuah cerita panjang penuh dengan babak-babak baru. Setelah berkenalan dan mewawancarainya untuk bahan yang akan aku ajukan ke editor, ada kesan menarik yang dia berikan kepadaku. Sekarang, pertemuanku dengannya tidak hanya sekedar wawancara antara reporter dan narasumber, tetapi kami sering menghabiskan waktu sore hari untuk sekedar minum kopi hitam di kedai kopi di daerah Jakarta Timur. Andreas juga sering mengajakku menonton konser musik dan menikmati live music di daerah Kemang. Hubungan ku dengannya semakin dalam, semakin aku merasakan ada sesuatu yang berbeda yang mengalir diantara kami berdua, seperti ada magnet yang memaksa kami untk mengakui bahwa kami jatuh cinta. Aku dan Andreas jarang ada waktu untuk bertemu, Andreas bekerja di beberapa tempat yang mengharuskan dia untuk selalu berpergian, namun sekali bertemu, Andreas selalu menyiapkan kejutan yang membuat aku semakin mencintainya. Mungkin, sebuah ciuman adalah hal kecil yang selalu kami lakukan. Aku bisa menghabiskan waktu satu hari penuh bersamanya, membiarkan pekerjaanku terlantar begitu saja untuk seharian.
Derina mengalunkan sebuah nada
Hujan datang menghiasi Ibu kota. Jalanan nampak basah, pepohonan menyimpan banyak air hujan di dalamnya. Aku masih berada di dalam kantor. Harus mengetik beberapa hal yang harus kulaporkan kepada pimpinan redaksi untuk topik bulan depan. Ponselku bergetar, mengisyaratkan ada pesan masuk. Kulihat, nama Andreas terlihat disana.
“Masih di depan layar komputer? Jam 5 Aku tunggu di kedai kopi seperti biasa ya”. Aku tersenyum. Betapa senang hatiku, rindu yang sudah bercabang akhirnya bisa disatukan oleh senyum yang selalu kunanti di setiap malam.
Aku membalasnya, “Hari ini aku ditemani oleh sepaket komputer dan kopi hitam tanpa ayam kremes-karena ternyata aku lupa makan siang. Sampai bertemu jam 5 Pastikan kamu jauh lebih tampan dari biasanya”.
Pukul 3. Pekerjaanku selesai. Harus selesai, karena aku tidak mau kehilangan sedikitpun moment di hari itu. Aku menuju Andreas menggunakan taksi. Kuyakin Andreas sudah datang tepat pada waktunya. Bulan ini dia full berada di Jakarta, bulan depan lagi dia harus berangkat ke Kalimantan. Perjalananku menuju kedai kopi membutuhkan waktu 1 setengah jam, belum ditambah macet karena angkot dan semakin banyaknya kendaraan roda empat yang sekarang menjadi tolak ukur-kesuksesan seseorang, sisa waktu setengah jam lagi dipakai untuk menikmati lampu merah. Setiba di kedai kopi, kulihat dia duduk seorang diri, ditemani vas bunga berwarna merah muda, menu makanan dan laptop dia gelar diatas meja. Tidak ada makanan ataupun minuman yang dia pesan, tidak ada secangkir kopi diatasnya. Dia setia menunggu.
“Kamu kalah. Aku datang tepat pukul 5. Persis dengan apa yang kau katakan” aku menjulurkan jam tangan ke hadapannya, sekaligus sebagai kalimat pertama untuk menyapanya.
                “Yang kalah kamu sayang, lihat di jamku sekarang sudah pukul 5.10. kamu telat 10 menit”
“Perbedaan waktu. Ah bukan topik yang menarik untuk dijadikan bahan diskusi dan perdebatan. Karena waktu mempuyai cerita dan keunikannya sendiri. Kenapa tidak pesan minum?”
“Masih setia menunggu sang dewi datang. Bagaimana kalau kita menyambut malam dengan menikmati indahnya lukisan. Mau?
                “Mau! Terimakasih, kamu selalu membawa kebahagiaan untuk aku santap di setiap waktu”.
Kami tidak lama berada di kedai kopi, Andreas membayar janjinya dengan mengajakku ke pergelaran lukisan di daerah Pasar Baru.  Ada banyak lukisan yang bisa aku lihat dengan puas. Malam itu indah, rembulan seakan tersenyum kepada kami. Tetapi kemudian, aku mendengar suara lirih nenek seakan membisikkan telinga, “Derina sayang, kamu harus segera pulang. Ini sudah malam” Aku berusaha menolak hadirnya nenek di hari ini, meskipun hanya sekedar suara. Tapi aku tidak menantikannya.
“Malam ini kita menginap ya?” Tanya Andreas kepadaku. Saat itu kulihat dia sudah bosan berada di tempat ini. Aku masih setia berada disini. Aku mengangguk.
                “Aku lapar. Kita makan yuk” Tepat. Dia bosan berada disini.
                “Oke. Setelah itu, aku tahu kamu pasti lelah dan meminta untuk istirahat.”
                “Kamu mengerti sekali. Pantas aku jatuh hati kepadamu.”
                “Jangan merayu. Aku juga sudah mulai lapar”
Kami meninggalkan pergelaran lukisan, mencari tempat makan yang menurut kami asik dan menarik. Akhirnya kami memilih makan ayam remuk pinggir jalan. Andreas yang baik hati, dia selalu hadir disetiap waktu yang tepat. Dia tidak pernah menggangguku tapi selalu menggoda dan membiarkan aku terus memikirkannya. Malam itu kami menginap berdua di suatu tempat. Tempat dimana tak ada satupun orang yang berminat untuk bergabung bersama. Dia memperlakukanku layaknya seorang putri di Angkasa. Membawaku melayang terbang tinggi dengan kata-kata lembut yang dia keluarkan untukku.  Aku tak tahu mengapa dia menyentuhku, dan aku juga tidak mengerti mengapa aku ingin disentuh olehnya. Aku tidak mengerti mengapa dia menciumku, tetapi aku menyukainya. Aku tidak memahami mengapa dia memilih aku untuk merasakan cintanya dan membiarkan aku menyetubuhinya. Kami bercinta bersama rembulan di luar angkasa. Yah.. kami bercinta, tanpa alasan, tanpa harus aku banyak bertanya apa, apa dan mengapa?. Karena semua mengalir, semua terasa indah. Malam itu, Aku disentak oleh kenyataan bahwa aku bercinta dengan penuh kesadaran.
                Derina sayang mengapa kau lakukan itu kepadaku?” kudengar suara nenek lirih bergeming. Kurasa dia merasakan sesuatu di dalam dirinya. Seakan ada sesuatu yang rapuh dan tergores dari hatinya karena peristiwa semalam.Tapi bukankah itu seharusnya menjadi urusanku, bukan lagi urusannya. Ini hidupku! Bukan hidupnya. Aku juga tidak menjual hidupku kepadanya, mengapa seakan dia memiliki hidupku dengan utuh?.
Aku membuang semua perasaanku kepadanya, menghindar dari suara lirih yang sangat mengusikku. Kulihat Andreas masih berbaring di sampingku. Wajahnya tenang, ada rasa nyaman dan ketulusan terpancar dari dalam dirinya. “Derina…mengapa kamu melakukan ini kepadaku? Mengapa?” suara itu kembali hadir mengusik, lagi dan lagi semakin dalam menggangguku.
“Hentikan nek!! Berhentilah berbicara dan bergeming dalam pikiran dan mencampuri kehidupanku. Aku menyayangimu, tetapi sesungguhnya aku juga membencimu sangat!” Aku berteriak menyebabkan Andreas terbangun dari tidurnya. Ditatapnya aku dengan heran, “kamu baik-baik saja?” aku terdiam, menangis dan terus menangis dalam pelukan Andreas. Dia memahamiku dengan tidak lagi bertanya dan mengintrogasiku. “Sebaiknya kita pulang siang ini. Kamu harus istirahat.” Oh Andreasku, mengapa kamu begitu memahamiku dengan sempurna?
Aku dan Andreas memutuskan untuk kembali pada kenyataan, kembali kepada bumi dan kembali pada keseharian. Ku saksikan nenek berada di teras rumah menyambutku dengan tatapan nanar, dia tidak menyukai Andreas, baginya Andreas adalah racun untukku. Seorang putri tidak pantas berdekatan dengan racun. Nenek mengusirnya, dia membuang sirih yang digenggamnya tepat di hadapan Andreas. Dan memaksaku untuk masuk ke dalam. Kemudian dia memasungku dan menghancurkan telepon genggamku. Aku tidak berkata sekata katapun kepadanya, tetapi mengapa dia memperlakukanku layaknya aku seperti buronan dan teroris? Satu hal yang kuketahui saat itu, Nenek sangat membenciku, tidak ada kasih di dlmnya.
                “Aku pernah bersumpah kepada diriku, bahwa aku tidak akan membiarkan dirimu dekat dengan lelaki. Kamu tidak pantas terjamah oleh lelaki, Derina. Kau tidak akan pernah menjadi milik Andreas Jangan tanya kenapa, karena tidak ada pertanyaan atas argumenku” setelah itu nenek mengunci pintu kamarku. Aku tidak boleh pergi kemanapun kecuali mandi. Makan pun diantar ke kamar.
Namun, lama setelah peristiwa itu terjadi, nenek jatuh sakit. Tidak ada yang merawat dirinya. Karena, aku yang biasa merawatnya di penjara di dalam kamar. Dia yang menyebabkan penyakit itu datang kembali, dia yang mengundang kematiannya untuk cepat datang. Sampai pada akhirnya dia  meninggal. Meninggalkan aku sendirian di dalam kamar, membirkan dia menjemput ajalnya seorang diri, membiarkan dia menyaksikan sakaratulmaut tanpa seorang teman. Maafkan aku, nek! Karena aku tidak berencana dan ikut campur dalam urusan kematianmu. Aku menyayangimu, tapi aku tidak buta seperti dirimu, sampai menutup jalanku untuk mencari bahagia dan kebebasanku sendiri. 

Derina :
Sampai sekarang kau tidak pernah tahu bahwa aku sudah pernah dijamah dan menjamah seorang lelaki. Kau tidak tahu bagaimana rasanya nikmat yang aku rasakan dimalam itu, kau tidak tahu bagaimana rasanya dicintai seseorang dengan luar biasa. Kau benar, aku tidak akan pernah memiliki Andreas, karena dia telah pergi jauh sekarang. Dia meninggal dalam perjalanannya menuju (    ) pesawat yang ditumpanginya jatuh ke laut. Kau benar, sekarang aku yang menanggung semuanya sendiri, bukankah ini soal pilihan dan bertahan dalam pilihan itu nek? Aku memilih bercinta dengan Andreas pada malam itu. Dan aku yang bertahan dalam pilihanku. Sekarang, aku merdeka. Merdeka dari segala pengganggu. Aku merdeka dari dirimu yang selalu menyiksa pikiranku dengan suara lirihmu, dan aku merdeka karena hanya Aku yang mampu menyetubuhinya, tidak ada satupun. Begitupun dengannya. Maafkan aku nek, aku memilih untuk membelah diri tanpa pernikahan dan itu tanpa kau ketahui


Derina menutup kisahnya dengan memainkan piano untuk sang kekasih yang begitu dicintainya. Ada doa di dalamnya. Ada kenyataan yang menyadarkan dirinya, bahwa dia memang seorang lajang yang sudah membelah diri. Dia bertahan.. sekarang, pertanyaannya terjawab sudah,mengapa Andreas yang harus disetubuhinya, mengapa Andreas yang menciumnya. Karena cinta membawa Derina pada puncaknya. Karena cinta menunjukkan betapa indah dan menyakitkannya dia. Derina harus siap bertahan meskipun harus sendiri. Tapi Derina tidak sendiri, karena dia selalu bercumbu bersama Andreas setiap malam di dalam mimpi, bersama bayangan yang begitu nyata. Bercinta di luar angkasa. 

(Dituli di dalam patas ac, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar