Oleh: Dzatmiati Sari
Narator:
Sore ini bumi menangis, langit
nampak abu-abu dan hujan datang menghias.
Embun menempel dibalik jendela. Aku masih setia menghitung rintikan dan
merangkai wajahnya dengan embun. Wajah seorang lelaki yang begitu ku cinta.
Wajah seorang lelaki yang mampu menjadi cahaya di saat aku merasakan gelap,
mampu menjadi penghangat disaat dingin menyerbu dan mampu menjadi penyambung
antara duka, derita juga bahagia. Dia lah lelaki yang membangunkanku dari kesepian
yang panjang, dari takutku kepada malam. Dari kesedihan yang sulit untuk
dihapuskan. Andreas. Sore ini aku hanya ditemani kopi hitam di saat aku menantikan dirinya hadir dibalik embun dan
bayang-bayang hujan.
Derina:
Hari ini usiaku genap 25 tahun. Aku
ingat ketika merayakan hari ulangtahun yang ke 23 tahun bersamanya. Saat dimana
nenek masih menjadi penguasa pikiran dan pengendali hidupku. bagaimana aku
menjalani kutukan menjadi seorang cucu yang tak pernah bisa membuat cerita dan
merangkai kisahnya sendiri. Nenek selalu punya cara sendiri untuk bisa masuk ke
dalam kehidupanku, dia menjalar pada setiap urat nadi dan pikiran orang-orang
terdekatnya. Selama aku hidup dengannya aku tidak pernah tahu apa yang dia
pikirkan tentangku, apa yang dia inginkan dan cita-citakan untuk masa depanku,
yang kutahu nenek tidak menginginkan aku membelah diri, tidak menginginkan aku
bersentuhan langsung dengan seorang lelaki. Selama itu pula, aku selalu menjadi
wayang dalam permainannya. Nenek selalu mengira tak ada rahasia diantara kami
berdua, tak ada jarak dan dusta yang tercipta. Tentu saja, sebetulnya aku
mempunyai rahasia yang tidak diketahui olehnya. Bukankah embun tidak
membutuhkan warna agar daun jatuh hati kepadanya? Juga pada rembulan yang tidak
membutuhkan cahaya agar matahari selalu bersamanya. Sama halnya denganku, Aku
tidak perlu menjadi seorang Cinderella untuk mendapatkan hati seorang laki-laki
yang istimewa. Nek, bahagialah kau disana bersama para malaikat yang setia
merawatmu, disini aku berbahagia tanpamu, tanpa kutukanmu, tanpa suara lirihmu
yang setiap hari mengiang di telingaku, tanpa senyummu yang menjadi beban
untukku. Malam ini akan kuceritakan rahasiaku kepadamu lewat hujan yang turun.
Derina memainkan piano. Mengalunkan sebuah nada.
Derina:
Siang itu aku bertemu dengannya
di sebuah forum group diskusi yang diadakan oleh organisasi yang bergerak
dibidang kemanusiaan. Memang pada siang itu aku sedang meliput topik terkait
hak manusia di zaman sekarang. Andreas adalah salah satu pembicara dalam
diskusi itu. Dia menggunakan kemeja berwarna cokelat terang, jeans hitam dan
sepatu boat hitam, jam tangan diselempangkannya di tangan sebelah kiri.
Pembicaraannya menarik dan aku menyukainya. Awal pertemuaku dengannya membuat
sebuah cerita panjang penuh dengan babak-babak baru. Setelah berkenalan dan
mewawancarainya untuk bahan yang akan aku ajukan ke editor, ada kesan menarik
yang dia berikan kepadaku. Sekarang, pertemuanku dengannya tidak hanya sekedar
wawancara antara reporter dan narasumber, tetapi kami sering menghabiskan waktu
sore hari untuk sekedar minum kopi hitam di kedai kopi di daerah Jakarta Timur.
Andreas juga sering mengajakku menonton konser musik dan menikmati live music
di daerah Kemang. Hubungan ku dengannya semakin dalam, semakin aku merasakan
ada sesuatu yang berbeda yang mengalir diantara kami berdua, seperti ada magnet
yang memaksa kami untk mengakui bahwa kami jatuh cinta. Aku dan Andreas jarang
ada waktu untuk bertemu, Andreas bekerja di beberapa tempat yang mengharuskan
dia untuk selalu berpergian, namun sekali bertemu, Andreas selalu menyiapkan
kejutan yang membuat aku semakin mencintainya. Mungkin, sebuah ciuman adalah
hal kecil yang selalu kami lakukan. Aku bisa menghabiskan waktu satu hari penuh
bersamanya, membiarkan pekerjaanku terlantar begitu saja untuk seharian.
Derina mengalunkan sebuah nada
Hujan datang menghiasi Ibu kota. Jalanan
nampak basah, pepohonan menyimpan banyak air hujan di dalamnya. Aku masih
berada di dalam kantor. Harus mengetik beberapa hal yang harus kulaporkan
kepada pimpinan redaksi untuk topik bulan depan. Ponselku bergetar,
mengisyaratkan ada pesan masuk. Kulihat, nama Andreas terlihat disana.
“Masih di depan layar komputer? Jam 5 Aku
tunggu di kedai kopi seperti biasa ya”. Aku tersenyum. Betapa senang
hatiku, rindu yang sudah bercabang akhirnya bisa disatukan oleh senyum yang
selalu kunanti di setiap malam.
Aku
membalasnya, “Hari ini aku ditemani oleh
sepaket komputer dan kopi hitam tanpa ayam kremes-karena ternyata aku lupa
makan siang. Sampai bertemu jam 5 Pastikan kamu jauh lebih tampan dari
biasanya”.
Pukul 3. Pekerjaanku selesai.
Harus selesai, karena aku tidak mau kehilangan sedikitpun moment di hari itu. Aku
menuju Andreas menggunakan taksi. Kuyakin Andreas sudah datang tepat pada waktunya.
Bulan ini dia full berada di Jakarta, bulan depan lagi dia harus berangkat ke
Kalimantan. Perjalananku menuju kedai kopi membutuhkan waktu 1 setengah jam,
belum ditambah macet karena angkot dan semakin banyaknya kendaraan roda empat yang
sekarang menjadi tolak ukur-kesuksesan seseorang, sisa waktu setengah jam lagi
dipakai untuk menikmati lampu merah. Setiba di kedai kopi, kulihat dia duduk
seorang diri, ditemani vas bunga berwarna merah muda, menu makanan dan laptop dia
gelar diatas meja. Tidak ada makanan ataupun minuman yang dia pesan, tidak ada
secangkir kopi diatasnya. Dia setia menunggu.
“Kamu kalah.
Aku datang tepat pukul 5. Persis dengan apa yang kau katakan” aku menjulurkan
jam tangan ke hadapannya, sekaligus sebagai kalimat pertama untuk menyapanya.
“Yang
kalah kamu sayang, lihat di jamku sekarang sudah pukul 5.10. kamu telat 10
menit”
“Perbedaan
waktu. Ah bukan topik yang menarik untuk dijadikan bahan diskusi dan perdebatan.
Karena waktu mempuyai cerita dan keunikannya sendiri. Kenapa tidak pesan
minum?”
“Masih setia
menunggu sang dewi datang. Bagaimana kalau kita menyambut malam dengan
menikmati indahnya lukisan. Mau?
“Mau!
Terimakasih, kamu selalu membawa kebahagiaan untuk aku santap di setiap waktu”.
Kami tidak lama berada di kedai kopi,
Andreas membayar janjinya dengan mengajakku ke pergelaran lukisan di daerah
Pasar Baru. Ada banyak lukisan yang bisa
aku lihat dengan puas. Malam itu indah, rembulan seakan tersenyum kepada kami.
Tetapi kemudian, aku mendengar suara lirih nenek seakan membisikkan telinga, “Derina sayang, kamu harus segera pulang.
Ini sudah malam” Aku berusaha menolak hadirnya nenek di hari ini, meskipun
hanya sekedar suara. Tapi aku tidak menantikannya.
“Malam ini
kita menginap ya?” Tanya Andreas kepadaku. Saat itu kulihat dia sudah bosan
berada di tempat ini. Aku masih setia berada disini. Aku mengangguk.
“Aku
lapar. Kita makan yuk” Tepat. Dia bosan berada disini.
“Oke.
Setelah itu, aku tahu kamu pasti lelah dan meminta untuk istirahat.”
“Kamu
mengerti sekali. Pantas aku jatuh hati kepadamu.”
“Jangan
merayu. Aku juga sudah mulai lapar”
Kami meninggalkan pergelaran
lukisan, mencari tempat makan yang menurut kami asik dan menarik. Akhirnya kami
memilih makan ayam remuk pinggir jalan. Andreas yang baik hati, dia selalu
hadir disetiap waktu yang tepat. Dia tidak pernah menggangguku tapi selalu
menggoda dan membiarkan aku terus memikirkannya. Malam itu kami menginap berdua
di suatu tempat. Tempat dimana tak ada satupun orang yang berminat untuk
bergabung bersama. Dia memperlakukanku layaknya seorang putri di Angkasa.
Membawaku melayang terbang tinggi dengan kata-kata lembut yang dia keluarkan untukku.
Aku tak tahu mengapa dia menyentuhku,
dan aku juga tidak mengerti mengapa aku ingin disentuh olehnya. Aku tidak mengerti
mengapa dia menciumku, tetapi aku menyukainya. Aku tidak memahami mengapa dia
memilih aku untuk merasakan cintanya dan membiarkan aku menyetubuhinya. Kami
bercinta bersama rembulan di luar angkasa. Yah.. kami bercinta, tanpa alasan,
tanpa harus aku banyak bertanya apa, apa dan mengapa?. Karena semua mengalir,
semua terasa indah. Malam itu, Aku disentak oleh kenyataan bahwa aku bercinta
dengan penuh kesadaran.
“Derina sayang mengapa kau lakukan itu
kepadaku?” kudengar suara nenek lirih bergeming. Kurasa dia merasakan
sesuatu di dalam dirinya. Seakan ada sesuatu yang rapuh dan tergores dari
hatinya karena peristiwa semalam.Tapi bukankah itu seharusnya menjadi urusanku,
bukan lagi urusannya. Ini hidupku! Bukan hidupnya. Aku juga tidak menjual
hidupku kepadanya, mengapa seakan dia memiliki hidupku dengan utuh?.
Aku membuang semua perasaanku
kepadanya, menghindar dari suara lirih yang sangat mengusikku. Kulihat Andreas
masih berbaring di sampingku. Wajahnya tenang, ada rasa nyaman dan ketulusan
terpancar dari dalam dirinya. “Derina…mengapa
kamu melakukan ini kepadaku? Mengapa?” suara itu kembali hadir mengusik,
lagi dan lagi semakin dalam menggangguku.
“Hentikan nek!! Berhentilah berbicara dan bergeming dalam pikiran dan
mencampuri kehidupanku. Aku menyayangimu, tetapi sesungguhnya aku juga
membencimu sangat!” Aku berteriak menyebabkan Andreas terbangun dari
tidurnya. Ditatapnya aku dengan heran, “kamu
baik-baik saja?” aku terdiam, menangis dan terus menangis dalam pelukan
Andreas. Dia memahamiku dengan tidak lagi bertanya dan mengintrogasiku. “Sebaiknya kita pulang siang ini. Kamu harus
istirahat.” Oh Andreasku, mengapa kamu begitu memahamiku dengan sempurna?
Aku dan Andreas memutuskan untuk
kembali pada kenyataan, kembali kepada bumi dan kembali pada keseharian. Ku
saksikan nenek berada di teras rumah menyambutku dengan tatapan nanar, dia
tidak menyukai Andreas, baginya Andreas adalah racun untukku. Seorang putri
tidak pantas berdekatan dengan racun. Nenek mengusirnya, dia membuang sirih
yang digenggamnya tepat di hadapan Andreas. Dan memaksaku untuk masuk ke dalam.
Kemudian dia memasungku dan menghancurkan telepon genggamku. Aku tidak berkata
sekata katapun kepadanya, tetapi mengapa dia memperlakukanku layaknya aku
seperti buronan dan teroris? Satu hal yang kuketahui saat itu, Nenek sangat
membenciku, tidak ada kasih di dlmnya.
“Aku
pernah bersumpah kepada diriku, bahwa aku tidak akan membiarkan dirimu dekat
dengan lelaki. Kamu tidak pantas terjamah oleh lelaki, Derina. Kau tidak akan
pernah menjadi milik Andreas Jangan tanya kenapa, karena tidak ada pertanyaan
atas argumenku” setelah itu nenek mengunci pintu kamarku. Aku tidak boleh pergi
kemanapun kecuali mandi. Makan pun diantar ke kamar.
Namun, lama setelah peristiwa itu
terjadi, nenek jatuh sakit. Tidak ada yang merawat dirinya. Karena, aku yang
biasa merawatnya di penjara di dalam kamar. Dia yang menyebabkan penyakit itu
datang kembali, dia yang mengundang kematiannya untuk cepat datang. Sampai pada
akhirnya dia meninggal. Meninggalkan aku
sendirian di dalam kamar, membirkan dia menjemput ajalnya seorang diri,
membiarkan dia menyaksikan sakaratulmaut tanpa seorang teman. Maafkan aku, nek!
Karena aku tidak berencana dan ikut campur dalam urusan kematianmu. Aku
menyayangimu, tapi aku tidak buta seperti dirimu, sampai menutup jalanku untuk
mencari bahagia dan kebebasanku sendiri.
Derina :
Sampai sekarang kau tidak pernah
tahu bahwa aku sudah pernah dijamah dan menjamah seorang lelaki. Kau tidak tahu
bagaimana rasanya nikmat yang aku rasakan dimalam itu, kau tidak tahu bagaimana
rasanya dicintai seseorang dengan luar biasa. Kau benar, aku tidak akan pernah
memiliki Andreas, karena dia telah pergi jauh sekarang. Dia meninggal dalam
perjalanannya menuju ( ) pesawat yang
ditumpanginya jatuh ke laut. Kau benar, sekarang aku yang menanggung semuanya
sendiri, bukankah ini soal pilihan dan bertahan dalam pilihan itu nek? Aku
memilih bercinta dengan Andreas pada malam itu. Dan aku yang bertahan dalam
pilihanku. Sekarang, aku merdeka. Merdeka dari segala pengganggu. Aku merdeka
dari dirimu yang selalu menyiksa pikiranku dengan suara lirihmu, dan aku
merdeka karena hanya Aku yang mampu menyetubuhinya, tidak ada satupun.
Begitupun dengannya. Maafkan aku nek, aku memilih untuk membelah diri tanpa
pernikahan dan itu tanpa kau ketahui
Derina menutup
kisahnya dengan memainkan piano untuk sang kekasih yang begitu dicintainya. Ada
doa di dalamnya. Ada kenyataan yang menyadarkan dirinya, bahwa dia memang
seorang lajang yang sudah membelah diri. Dia bertahan.. sekarang, pertanyaannya
terjawab sudah,mengapa Andreas yang harus disetubuhinya, mengapa Andreas yang
menciumnya. Karena cinta membawa Derina pada puncaknya. Karena cinta
menunjukkan betapa indah dan menyakitkannya dia. Derina harus siap bertahan meskipun
harus sendiri. Tapi Derina tidak sendiri, karena dia selalu bercumbu bersama
Andreas setiap malam di dalam mimpi, bersama bayangan yang begitu nyata.
Bercinta di luar angkasa.
(Dituli di dalam patas ac, 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar