Untuk kesekian kalinya, warung itu tidak pernah terlihat sepi
dari pengunjung. Sebagian orang ada yang
benar-benar berniat untuk membeli nasi, ada juga yang hanya membeli kopi hitam
panas dan sekedar nongkrong. Kemudian mereka menghabiskan waktunya untuk main
gaple atau catur di bale-bale yang tersedia di halaman depan warung. Si empunya
warung tidak pernah mengusir mereka yang tidak menghasilkan keuntungan
untuknya. Justru dia berbangga hati ada
yang mau meramaikan warungnya. Sehingga warung itu selalu menjadi pusat
perhatian orang karena berada di pinggir jalan raya. Jelas, sekarang warung
pinggir jalan itu terkenal karena didatangi banyak pelanggan.
Namanya Maryam, seorang janda tanpa anak ini baru saja
ditinggal suaminya. Karena kecelakaan truk bangunan, dia harus kehilangan si
pemberi nafkah. Sekarang dia membantu mertuanya menjalankan usaha warung nasi
pinggir jalan. Maryam selalu menjadi pusat perhatian bagi setiap laki-laki yang
datang berkunjung ke warung nasi milik mertuanya. Penampilannya terlihat begitu
sederhana, dia selalu memakai rok pendek dan kaos oblong, rambutnya yang panjang
dan hitam pekat dikuncir olehnya tetapi
terkadang dibiarkannya terurai. Paras wajahnya begitu menarik dan menggoda. Maryam memiliki
bibir yang begitu enak untuk dipandang, juga mata yang indah. Seperti mata
elang. Perkataannya lembut, membuat siapapun yang berbicara kepadanya seperti
dituntun untuk bersikap baik dan lembut pula olehnya. Maryam adalah seorang yang
pendiam, dia akan berbicara bila diajak berbicara. Selebihnya akan lebih
memilih untuk diam dan mencatat arus keuangan yang masuk dan hutang-hutang dari
setiap pelanggan yang datang.
Kehadiran Maryam di warung itu membuat usaha mertuanya
semakin maju dan mendapatkan keuntungan yang banyak. Para pelanggan yang datang
pada umumnya hanya ingin bertemu dengan Maryam tetapi kemudian mereka jajan ini-itu di warung mertuanya. Banyak lelaki
menggodanya, terkadang memberikan bualan dan gombalan yang begitu kampungan. Saat
itu Maryam hanya bisa tersenyum. Mungkin kegirangan,mungkin juga karena tak
enak hati, maka dia membalas senyum kepada orang yang menggombal. Mertuanya tidak
marah, tidak juga risih atau merasa kesal hati. Justru dia menginginkan Maryam
segera menikah kembali. Sayang, maryam masih terlalu muda untuk tinggal seorang
diri. Dia masih layak untuk menikmati manisnya berumah tangga dan mendapatkan
sentuhan dari seorang lelaki. Banyak para pelanggan yang datang untuk mencoba
mendekati Maryam, dia hanya membalasnya dengan senyum dan tidak memberikan
respon yang lebih. Pernah suatu hari, Maryam dilamar oleh empat lelaki yang baru dikenalnya.
“Saya pesan satu ya mbak. Pakai telur asin dan ayam goreng saja.
Minumnya kopi” suara itu berasal dari seorang pengusaha keramik di Jakarta.
Maryam mengantarkan makanan ke tempat lelaki itu duduk. Lelaki
itu diam membisu, menatap wajah Maryam yang begitu enak dipandang. Setelah menghabiskan
nasinya, lelaki itu membayar makanannya. Dan meminta Maryam untuk berkenan
menjadi kekasihnya. Dan bersedia menikah dengannya. Maryam menolak dengan
alasan, dia masih belum bisa menggantikan suaminya dengan lelaki lain. Lelaki itu
meinggalkan warung membawa kekecewaan.
Di selang waktu berikutnya,datang seorang lelaki dengan pakaian
rapih. Dia juga seorang pengusaha di Jakarta. Sesampainya di warung dia memesan
makanan dan Maryam mengantarkan makanan itu kehadapannya. Begitu sumringahnya
lelaki itu melihat Maryam. Mata yang begitu indah, tutur kata yang lembut juga
bibir yang begitu menggoda. Lelaki itu menginginkan Maryam untuk menjadi
istrinya. Dia datang menghamiri mertua Maryam dan meminta merestui Maryam ntuk
menjadi ibu dari kedua anaknya. Rupanya lelaki itu adalah seorang duda.
Mertuanya diam, tetapi Maryam menolak dengan sopan. Lelaki itu pergi meninggalkan
warung juga dengan membawa kekecewaan.
Warung masih terlihat ramai. Orang-orang yang sedari tadi
nongkrong dan menyaksikan peristiwa itu terus membicarakan sikap Maryam yang menolak
dua orang kaya yang ingin mempersuntingnya. Ada juga yang merasa senang karena
Maryam tidak menerima kedua lelaki itu, karena mereka masih bisa menikmati
keindahan Maryam tanpa takut dengan dimarahi suaminya. Tak lama kemudian datang seorang lelaki
dengan kulit sawo matang, tubuh yang tegap dan berisi,ada keringat yang
bercucuran disana, menghiasi wajahnya
yang juga berwarna sama dengan kulit di tangannya. Masih menggunakan topi
proyek. Dia adalah seorang mandor dari proyek pembangunan jalan raya. lelaki itu
memesan nasi dan ayam bakar, dengan kopi tentunya. Maryam datang menhampiri dan
menyajikan pesanannya. Si mandor begitu terpukau melihat kecantikan Maryam,
juga pada mata dan bibir Maryam yang begitu indah. Mandor itu memegang tangan
Maryam begitu erat. Maryam merasa risih, kemudian dia berusaha menolak sikap
yang diberikan oleh mandor itu. Saat makan, si mandor terus memperhatikan
Maryam. Pandangannya tidak pernah berpaling dari Maryam. Mertuanya merasa risih
dan begitu cemas, karena menantunya seperti diintai dan dimata-matai. Kemudian mertuanya
datang menghampiri mandor itu.
“Kau makan saja, tidak usah menatap menantuku seperti itu. Aku
yang melihatnya begitu risih, setelah makan kau boleh pergi melanjutkan pekerjaanmu
di jalan” wanita tua itu menatap mandor dengan penuh ketegasan.
“Apa yang salah denganku? Menantumu begitu menarik perhatian.
Dia cantik dan begitu menggoda. Ku dengar kabar, suaminya sudah meninggal. Tidakkah
kau membiarkan dia menikah kembali? Jahat sekali kau ini” logatnya yang begitu
kental membuat mertua Maryam semakin marah dan jengkel.
“Dia memang ditinggal suaminya mati. Tetapi sumpah mati juga,
tak akan kubiarkan menantuku dipinang oleh seorang lelaki sepertimu. Mata keranjang.
Setelah kau bayar. Silahkan pergi dari sini” ucap mertua Maryam dan kemudian
dia pergi meninggalkan si mandor itu.
Maryam hanya menunduk. Mungkin dia takut, bisa juga dia malu
mnjadi bahan omongan dan perdebatan. Semua orang yang berada di warung diam dan
tidak lagi membicarakan Maryam. Si mandor itu membayar jajanannya dan pergi
membawa kekesalan. Dia mengumpat habis-habisan mertua Maryam.
Kejadian itu membuat suasana warung nampak tidak enak. Banyak
pelanggan yang diam. Mertua Maryam juga menjadi diam membisu. Maryam memang
selalu diam. Lama setelahnya sekitar pukul 3 sore, datang seorang lelaki
berbadan besar, menggunakan topi berwarna biru gelap, celana jeans dan jaket
jenas besar. Lelaki itu memesan makanan
kepada Maryam. Tentu saja, diapun melihat wajah Maryam. Ada ketertarikan
disana.
“Aku pesan nasi pakai telor. Kopi hitamnya satu saja mbak”
pesan lelaki itu sopan.
Maryam mengantarkan makanan kepada pelanggannya. Seperti yang
dia lakukan biasanya. Lelaki itu tidak menatapnya, dan membiarkan Maryam
melenggang pergi setelah meletakan makanan di hadapannya.
“terimakasih” ucap lelaki itu.
Langkah Maryam terhenti. Suara lelaki itu begitu lembut dan
menenangkan. Hati Maryam berdegup begitu kencang. Dia begitu gugup, sampai
tidak membalas ucapan lelaki itu.
Lelaki itu menghabiskan makanannya dan menyalakan rokok yang
dia ambil dari balik jaket jeans miliknya. “berapa semuanya mbak?” kata lelaki itu kepada
Maryam. Lagi-lagi tidak menatap wajah Maryam. Dia berbicara dari bale-bale. Maryam
masih berada di dalam warung.
“7 ribu mas” Maryam datang mendekat. Entahlah, mengapa dia
menghampiri lelaki itu. Tidak seperti biasanya. Mertuanya pun merasa aneh
melihat sikap Maryam kepada lelaki itu.
“ini aku kasih 10 ribu. Tidak usah kembali. Untuk dirimu
saja.” Kali ini lelaki itu menatap wajah Maryam. Mau tak mau. Karena Maryam
sudah duduk tepat dihadapannya. Lelaki itu mampu melihat keindahan dari Maryam,
begitu indah dan begitu dekat.
“terimakasih mas. Ada kah hal lain yang ingin kau berikan
selain kembalian tiga ribu rupiah?” perkataan Maryam membuat lelaki itu
mendelik. Seperti ada harapan disana. Seperti ada ketertarikan dan sesuatu yang
berbeda disana. Mertua Maryam terus memperhatikan dari dalam warung.
“Rupanya kau Maryam yang selalu menjadi bahan perbincangan
kaum lelaki. Sungguh indah rupamu. Matamu dan bibirmu yang begitu enak
dipandang juga cara bicaramu yang begitu lembut, membuatku semakin tak berdaya.
Andai bisa kumiliki dengan utuh dan sederhana dirimu, alangkah bahagianya
diriku dan tentu saja akan kubahagiakan kau seperti aku yang sedang berbahagia
di sore ini” lelaki itu terus menatap Maryam. Tatapan yang begitu lugas dan tegas. Kalimat
yang begitu menyejukan hati perempuan penjaga warung nasi itu. Maryam tersenyum
dan tak lagi menunduk.
“Apa janjimu untuk sore yang begitu indah ini mas?”
“tak ada janji yang bisa kuucap. Karena semua kata-kata akan
menjadi indah bila berubah menjadi laku yang nyata. Kau hanya boleh menuntut
kebahagiaan kepadaku. Aku bukan orang kaya, aku hanya si pemberi kata-kata pada
setiap bait cerita. Aku hanya seorang penulis. Semoga kau mau merasakan bahagia
bersamaku, juga menjadi pendengar cerita yang lara di setiap perjalananku.” Lelaki itu masih menatap Maryam.
Maryam tersenyum. Disentuhnya tangan lelaki itu. “Aku mau,
mas”.
Ciledug, 20 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar