Selasa, 04 Juni 2013

LANGKAH DALAM GELAP
Karya: Dzatmiati Sari

Suasana sore yang begitu menyejukan mata, karena tak tampak mendung di langit, juga tak tampak lara dihati  seakan menggambarkan suasana hati dua anak yang sedang asyik menikmati kue pukis di pinggir tangga sebuah gedung.
Nampaknya perbincangan mereka begitu ringan dan hangat. Terlihat jelas dari kedua titik ujung bibir mereka yang melebar. Tatapan mata yang ceria dan gerakan tangan yang santai mengambil kue pukis yang ada di dalam kantong plastik berwarna merah dan putih memanjang kebawah.  Sebentar hening, untuk menarik nafas panjang dan menyimpannya dalam paru-paru. Tetapi keheningan itu cukup lama, tak ada kata, kalimat ataupun suara yang terlontar dari mulut mereka. Sepertinya ada sesuatu. Oh, ternyata mereka sibuk dengan gadget yang ada di tangan mereka masing-masing. Yang satu memegang  Ipad dan yang satu asik memainkan Smartphone nya. Fokus dan perhatian mereka, dengan mudah dicuri oleh benda yang tak bisa bicara itu tetapi bisa memberikan banyak wacana di dalamnya. Memang, informasi sekarang ini dapat dengan mudah kita dapatkan di dalam teknologi (gadget) tetapi, terkadang alat itu bisa menjadi monster yang menakutkan untuk kita semua. Terlihat dengan jelas dan sangat kontras, ketika kedua anak itu saling bertatap mata, saling menebar tawa, berbagi cerita yang membuat merka ceria dan saling berbagi bahagia seketika berubah menjadi suasana yang super hening, karena pikiran mereka dicuri oleh monster yang bernama gadget. Saat gadget itu memberikan tanda akan adanya pemberitahuan dari jejaring sosial tertentu, perhatian kita akan dengan mudah beralih kepadanya. Padahal, kita sedang asyiknya merajut keceriaan dengan teman disebelah kita. Memang betul, seakan gadget itu menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh. Aku sepakat akan pernyataan itu jika dipakai oleh mereka yang memang mengagungkan gadget.
Sedang asyiknya mereka bercumbu dengan gadget mereka, datang seorang anak laki-laki kurus dengan ukuran kaki yang tidak terlalu panjang. Memakai celana jeans berwarna hitam agak kebesaran, dan kaos berwarna kuning. Dalam perjalananya pun, anak laki-laki itu sibuk memainkan handphonenya. Matanya hanya tertuju pada layar kecil yang menampakkan huruf-huruf yang terangkai menjadi sebuah pesan. Sepertinya pesan itu cukup manis untuk dibaca olehnya. Karena terkadang dia tersenyum saat mebacanya. Yap, benar-benar fokus rupanya.
Saat anak laki-laki itu berjalan melewati dua anak perempuan itu, dia cepat sadar ketika melihat keadaan hening yang menggambarkan betapa atutisnya kedua anak itu. Byaaar! Dibuyarkannya fokus dari kedua anak perempuan itu oleh anak laki-laki sebayanya.
“Berdekatan tapi saling diam, cupu!” ucap anak laki-laki itu.
Salah satu anak perempuan itu menjawab ucapannya, “kamu aja sibuk berjalan dengan handphonemu. Jalan kok nunduk kebawah bukan menatap kedepan.”
Seakan, anak laki-laki itu tidak menghiraukan ucapan dari salah satu anak perempuan itu. Dia pun membuka topik pembicaraan lain.
“loh, kok kalian masih ada disini? Katanya mau ke rumahnya mamak? Ini udah sore. Nanti kalian kemalaman sampai disana.”
“Ohiya, kita sampai lupa sama waktu, asyik ngobrol tadi”
“Asyik ngobrol apa asyik menjadi anak yang autis?”
“Yee, kamu sok menilai orang, kamu sendiri seperti itu. Kita memang tadi asyik ngobrol, tiba-tiba ada hal penting yang membuat kamu beralih ke gadget”
“Itukan alasan doang. Seberapa penting sih? Ah sudah sana kalian cepat pergi, nanti kemalaman”.
“Iya iya. Ini kita segera pergi”.
Kedua anak itu pun meninggalkan anak laki-laki itu seorang diri. Tak jauh mereka pergi, kembalilah anak laki-laki itu sibuk menatap layar handphonenya. Dia kembali pada monster menakutkan itu.
Sore itu tidak hujan. Tetapi awan cukup teduh, seakan memberikan isyrta nanti akan turun hujan, entah 3,4,5 atau berapa jam lagi akan turun hujan.
Kita tetap berjalan menuju rumah mamak. Sebetulnya salah satu anak itu, sudah sering berkunjung ke rumah mamak. Tetapi melewati jalan yang berbeda dat\ri jalan yang ditempuhnya saat ini. Ini adalah jalan baru yang mereka telusuri.
Awalnya, mereka ingin memakai jalan yang lama, tetapi karena ada keperluan lain maka mereka menggunakan jalan baru dengan keyakinan “kita akan sampai di rumah mamak meskipun tidak tahu pasti jalan menuju rumahnya”.
Saat diperjalanan, mereka banyak berbicara, saling bercerita dan berbagi tawa. Saat itu, benar-benar mengabaikan gadget.
Untuk sampai ke rumah mmak ternyata tidaklah mudah jika melewati jalur baru ini, ada beberapa hal yang membuat mereka bingung dan saling meyakinkan keyakinan masing-masing dan saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
Setalah lama berjalan, sampailah mereka di sebiah persimpangan yang membingungkan. Di persimpangan itu, semua orang yang akan melewatinya akan merasa kebingungan, kecuali mereka yang mempunyai keyakian yang kuat opada diri mereka bahwa mereka tidak akan tersesat. Selain itu, di persampingan itu akan menemukan seoarng pria mistis yang selalu memakai pakaian coklat dan membawa pluit. Dia akan membunyikan pluitnya kalau kita berjalan tidak sesuai aturannya. Semua orang malas sekali berurusan dengannya, karena akan menghabiskan banyak uang saku jika kita melanggar aturan yang ada dipersimpangan itu. Tetapi, karen a kedua anak itu mempunyai keyakinan bahwamereka akan sampai ke rumah mamak, mereka lolos melewati persimpangan itu.
Berjalan terus mereka, kembali berbincang dan saling tawa.
Perjalanan belum juga aman, ternyata mereka akan melewati tanjakan sirotulmustakim dan turunan alhamdulillah yang dihuni oleh banyak orang disekitarnya. Terkadang beberapa dari orang-orang itu berjualan di pinggir atau setelah tanjakan itu mencapai ujungnya.
Untuk sampai pada ujung tanjakan sirotulmustakim dan turunan alhamdulillah, kedua anak itu harus saling berpegangan, dan saling menahan dan menguatkan satu dengan yang lainnya. Karena angin pada saat melewati tanjakan dan turunan itu sangat hebat. Angin besar yang dapat menggoyangkan tubuh kita dan dapat menggoyangkan topi kedua anak itu dan orang-orang lain yang juga memakai topi. Selain angin besar yang ada, kebingunganpun akan muncul saat kita sudah pada titik turunan alhamdulillah. Semua orang akan merasa bingung, karena banyaknya orang yang berlalu lalang tanpa memikirkan keadaan disekitarnya. Sering orang terkecoh setelah melewati tanjakan dan turunan itu. Dan kemudian berputar balik ke arah yang sebelumnya. Begitu seterusnya, hingga sampai oranag itu merasa lelah dan benar-benar pada titik kebingungan yang luar biasa, dia pun tersesat oleh kebingungannya sendiri. Kedua anak itu mengalami itu setelah berada pada titik turunan alhamdulillah. Mereka mengalami kebingungan dan berbalik arah ke arah sebelumnya, namun saat untuk melewati tanjakan dan turunan itu lagi, mereka meyakinkan keyakinan mereka bahwa mereka akan sampai di rumah mamak. Dan yakin akan jalan yang mereka pilih. Akhirnya mereka pun berhasil lolos dari tanjakana dan turunan itu.
Terus berjalan. Mereka tak tahu sedang berada dimana mereka saat itu. Berjalan terus mengikuti langkah-langkah yang mereka yakini bahwa itu adalah jalan yang benar. Awan benar-benar tampak teduh, memberikan isyarat bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Berhati-hati dalam perjalanan. Dan tetap saling meyakinkan dan memberi kekuatan satu dengan yang lainnya. Sampailah mereka pada sebuah jalan berbukit-bukit dengan hembusan angin yang kencang didalamnya. Suasana di perjalanan itu terasa dingin, kalau tidak pakai jaket hangat, mereka akan merasa kedingin yang begitu. Masuk kedalam gerbang menuju jalanan berbukit itu cukup ramai. Sepertinya banyak orang-orang yang akan masuk ke dalamnya, mereka pun melangkah. Sampai pada pertengahan jalan sudah mulai sepi, orang-orang yang tadinya ramai di depan gerbang sekarang sudah mulai hilang terbawa angin karena tidak kuat melawan dingin dan kencangnya angin yang menghantam tubuh-tubuh mungil mereka. Kedua anak itu terus melaju, memandang kedepan, dan tampak jalanan berbukit panjang yang mereka sendiri tak tahu dimana ujungnya.  Angin semakin kencang dan orang semakin sedikit yang bertahan. Dalam perjalanan kedua anak itu mengalami kebingungan yang luar biasa, mereka tak tau harus kemana. Langkah mereka terhenti karena tak tau lagi harus melangkah atau tidak, atau justru kembali pulang. Datang seoarang perempuan dengan kaca mata besar yang menutupi mata aslinya.
“Maaf ka mau tanya, jalan lurus itu menuju kemana yah? Dan sekarang ada di daerah mana yah?”
“Oh kalau kamu jalan lurus nanti akan bertemu dengan stasiun kereta. Dan kamu sekarang sedang berada di bukit ketabahan”
“Stasiun itu ada didekat sungai yah ka?”
“Iya benar. Nanti kamu akan menemukan sungai saat bertemu dengan stasiun itu”
“Iya benar benar. Itu tempat yang akan kami tuju. Terimakasih ka.”
“baik. Jalan terus saja sampai nanti bertemu persimpangan goyang, kamu belok ke kanan dan ikuti jalan itu. Ingat. Kalian harus yakin akan langkah-langkah kalian.”
“persimpangan goyang? Apa itu ka? Baik, terimakasih banyak.”
“persimpangan goyang adalah, keyakinan kalian akan digoyangkan disana. Ingatan kalian akan digoyangkan dan tubuh kalian akan digoyangkan karena di persimpangan goyang itu jalannnya miring. Kalian harus kuat kuat berpegang kalau tidak ingin jatuh.”
“Oh seperti itu, baik ka. Kami melanjutkan perjalan kami”.
Angin semakin kencang menggoyangkan tubuh kecil kedua anak itu, jalanan berbukit terus mereka ikuti sampai bertemu pada persimpangan goyang. Sampailah mereka.
Kuat-kuat mereka berpegang satu dengan yang lainnya, fokus pada keyakinan mereka, dan yakin bahwa mereka akan sampai ke rumah mamak. Tidak cukup lama untuk berada di persimpangan goyang itu. Tetapi hantaman dari ketidakyakinan cukup besar. Jika tidak kuat keyakinannya, mereka akan jatuh dan sulit untuk bangun karena jalannya miring.
Tapi dengan keyakinan yang kuat dan saling berpegangan kedua anak perempuan itu lolos di persimpangan jalan. Sekarang mereka tinggal berjalan terus sampai menemukan sungai dekat dengan stasiun .
Rumah mamak tidak terlalu jauh dari stasiun dan sunagi yang mengalir. Berjalan terus, sering kali mengusap muka karena debu-debu yang menempel di muka cukup banyak. Sampai mereka melewati staisun, tampak sumringah wajah mereka. Karena meraka akan sampai di rumah mamak. Keceriaan dan rasa letih sudah hilang sirna saat melihat portal rumah mamak. Dan mereka pun sampai di tempat tujuan.
Tersenyum dan saling memandang keduanya. Seakan ada dorongan dari alam untuk mereka saling berpelukan. Bahwa semangat mereka dan keyakinan mereka membawa mereka sampai pada tujuan meskipun mereka berjalan pada kegelapan.
Rupanya mamak sudah menunggu di dalam rumah. Spontan, kedua anak itu menciuminya. Rasa bahagia tampak diantara mereka.