Sabtu, 20 Oktober 2012

Monolog

Malam yang dingin sudah tidak mempan lagi untuk memasuki raga, tidak mempan lagi mengambil semangat dalam jiwa dan merenggut hasrat cinta dalam hidup. Karena semua nya telah aku jalani dan lewati.

Aku terlahir dari rahim seorang ibu yang aku tak tahu siapa dia, dan aku adalah anak perempuan yang berasal dari sperma seorang ayah yang aku tak tahu pula siapa dia.
Saat 20 tahun yang lalu, aku hidup 3 hari diatas air. Aku hidup didalam sebuah keranjang roti yang mengalir diatas nya, tanpa makan dan merasakan air susu seorang ibu. Aku dibuang, yah aku dibuang oleh orang tua ku sendiri. Aku tak pernah bertemu mereka dan tak pernah tahu bagaimana rupa mereka. Mungkin mreka pun tak tahu bahwa aku "anaknya" masih hidup di jagad raya semesta ini. Mungkin mereka tak mengerti bagaimana aku merasakan dinginnya setiap malam itu tiba, hingga pada akhirnya aku bisa bersahabat dengan angin-angin itu. Saat malam yang semakin dingin, aku ditemukan oleh sepasang suami istri, diangkatlah aku menjadi anaknya. Dibesarkan dengan kasih sayang yang tak kalah hebatnya dari kasih sayang orang tua kandung ku.

Hari itu, hari dimana aku berulangtahun yang ke 22 tahun, usia ku semakin hari semakin bertambah. Orang tua angkat ku menjodohkan ku dengan seseorang dari kampung sebrang. Konon, pria itu adalah keturunan ningrat, yang hidupnya sudah terjamin bahagia dengan limpahan materi yang banyak. Karena itu, orang tua ku berupaya keras agar aku mau menikah dengan nya. Dan sekarang, aku pun resmi menikah dengan nya. 1 setengah tahun pernikahan ku dengannya kita jalani bersama hingga pada suatu hari datang seorang pria ingin melamar ku menjadi istri nya. aku tersentak, aku heran. Siapa dia? mengapa dia berani-berani nya melamar .
Usut punya usut, ternyata saudara ipar dari bapak angkat ku memberitahukan kepada temannya bahwa ada seorang gadis yang sedang mencari suami. Dan gadis itu adalah aku. Entah apa yang dikatakan oleh saudara ipar bapak angkatku itu sampai pria itu sampai di depan rumah dan dengan lantang ingin melamarku. Aku menolak dengan tegas dan sesegera menutup pintu rumah ku yang pada saat itu suami ku sedang tidak ada dirumah. Tetapi sial bukan kepalang, pria itu memaksa masuk dan berusaha untuk bersetubuh dengan ku. Aku menolak dan berusaha melarikan diri, tetapi apalah daya jua, aku tak bisa melepaskan diri ku dari jeratannya. Aku pun dinodai oleh pria itu pada hari jahanam itu. Pria itu sudah terlanjur cinta kepada ku yang sebelumnya kita pun belum saling mengenal. Pria itu percaya akan wangsit yang menyatakan bahwa jika dia menikah dengan ku, maka hidupnya akan bahagia dan makmur sampai 7 turunan. Aku tak paham megapa dia mempunya pikiran yang sebegitu mistisnya. Aku kotor dan menjadi hina!

Suami ku tahu akan hal itu dari saudara ipar bapakku, aku pun diusir oleh suami ku. Aku sudah berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi suami ku sudah kelewat marah. Dan yang lebih membuat ku terkejut adalah pria itu adalah bapak kandung ku sendiri. Seorang ayah yang harus nya memberikan kasih sayang kepadaku dan memanjakan ku layaknya seorang anak dan memberikan pendidikan moral kepadaku, tetapi malah kebalikannya, aku anak yang dinodai oleh hawa nafsu dan pikiran sesat nya. 

Aku sendiri lagi saat ini, kembali seperti 22 tahun silam. Sendiri, dan dingin. Yang membedakannya adalah dahulu aku masih suci karena aku terlahir dari rahim seorang ibu yag begitu mulia, tetapi saat ini aku kotor dan hina karena perbuatan ayahku sendiri.








Shinta.
Jawa, 14 Febuari 1987